Terlalu Mudah Berjalan di Jalan Lurus

Pada kebetulan ini, saya kebetulan online via laptop. semenjak smartphone begitu menarik di dunia maya, aku begitu malas membuka benda ini. Smartphone benar - benar seperti magnet bagiku. mulai dari bangun tidur hingga terlelap rasanya begitu gelisah tanpa memainkan ibu jari pada benda kecil ini. bahkan karena tarikan benda kecil tersebut, akhirnya aku menjalankan bisnis online agar ketertarikanku sedikit lebih bermanfaat.
well, kebetulan lain adalah saat ini saya sedang duduk sendiri di sebuah cafe dengan pikiran yang begitu bercabang dan seperti biasa dibelakang leherku selalu saja sakit. Minuman yang ku pesan tinggal sedikit, hanya tersisa 20% dari keseluruhan.
Apa yang ingin kuceritakan tadi?
oh iyya, tentang perjalananku yang terlalu berliku.
Dan serius, entah sekuat apa saya hingga di antara anggota populasi justru aku yang mendapat jalan brliku itu. Pembaca mungkin mengatakan bahwa ini begitu lebay. Tapi ini serius, karena begitu rumitnya liku itu, pada setiap belokan mampu membuatku menangis tersedu. Pada belokan - belokan sebelumnya saya masih mampu bersembunyi atau setidaknya kelihatan namun tangisku tidak tersedu. Pada belokan pertama didepan empunya saya mampu menahan tetesan itu jatuh, namun ketika pada jam saya di suruh keluar bocah - bocah seumuranku melihatku menangis, malu rasanya karena saya adalah orang yang jarang berbagi kesedihan. 
Pada belokan kedua, dengan penuh semangat bara saya terus menyusuri tempat yang empunya rekomendasikan hingga tempat yang menurutku bisa disukai empunya. Namun ternyata nihil, tidak ada tempat yang sesuai dengan persayaratan sang empunya. Saya mulai takut, tak tau mau ke mana dan empunya malah memberi batas waktu hanya seminggu. karena batas waktu itulah yang membuat tetesan itu tak tertahan lagi. Yang paling memalukan adalah dua bocah seumuranku melihatku.
Pada belokan terakhir, empunya yang paling berkuasa yang marah karena saya yang ceroboh berpindah haluan tanpa komunikasi, bahkan sang empunya memberi isyarat bahwa belokan ini akan panjang hingga tahun depan. Belokan ini adalah belokan tajam dan membuatku menangis terseduh di toilet hingga setengah jam lamanya. Andai tidak kepikiran tentang orang yang mungkin ingin menggunakan toilet, aku akan di dalam sana hingga mata mengering. akirnya aku keluar dan menyendiri di sudut bangunan itu tanpa dilihat siapa - siapa namun sial, satu bocah temanku datang lalu memotivasi lalu dua bocah lainnya datang dan membuatku tak dapat menghindar. Kedua bocah itu mengakui jalanku terlalu berliku, salah seorang dari mereka mengatakan tidak menyangka saya rapuh. Ya tentu saja dalam keseharianku, mereka mengenalku keras dan ceria.

Pada saat ini, aku berada di tempat yang menjadi pembicaraan dengan empunya nanti, wish me luck :)

Comments

Popular posts from this blog

Mari Lupakan Jarak Sejenak

Orang itu berkata

Pernah